Jumat, 26 November 2010

70 ARTIS MEMBANJIRI BATAM

Dahsyatnya ayam kriuk - FFI 2010 di Batam

Rangkaian Acara 25-28 November 2010
Festival Film Indonesia (FFI) merupakan salah satu agenda budaya bertaraf nasional yang berfungsi sebagai tolak ukur prestasi, apresiasi dan promosi perfilman nasional yang dilaksanakan melalui ajang kompetisi rutin dan berkesinambungan. Pesta tahunan insan film Indonesia, FFI tahun 2010 ini akan digelar di beberapa tempat di Kota Batam.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam Guntur Sakti mengatakan penentuan Batam sebagai tuan rumah pelaksanaan acara nominasi FFI berjalan cukup alot. Namun mengingat Batam sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri dengan berbagai sarana serta dukungan anggaran yang diposkan dalam APBD Kota Batam dan Provinsi Kepri Tahun 2010, akhirnya Batam mendapat kepercayaan. Rangkaian kegiatan FFI 2010 di Kota Batam dilangsungkan selama empat hari 25-28 November 2010.

"FFI 2010 adalah sebagai salah satu magnet dalam menambah daya tarik Kota Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia yang nota bene merupakan gudang para penggemar artis-artis Indonesia," kata Guntur di sela-sela rapat persiapan FFI 2010, kemarin melalui sambungan telepon.

Pada hari Kamis (25/11) bertempat di Turi Beach Ressort, Nongsa akan digelar workshop dan seminar film pendek. Ini untuk mempromosikan serta mengajak seluruh masyarakat Batam mencintai film nasional. Para pelaku sineas muda juga diberi ruang untuk bereksperimen dan mendalami pengetahuannya dalam bidang perfilman sebagai fungsi edukasi terkait karya film dan regenerasi perfilman nasional,

Pada malam harinya akan dilanjutkan dengan pemutaran film dengan konsep nonton bareng masyarakat Batam dengan menghadirkan artis film yang diputar tersebut saat pemutaran film Nominasi FFI 2010.

Workshop FFI 2010 dan press conference merupakan rangkaian acara perdana untuk mempublikasikan berbagai rangkaian acara utama penyelenggaraan FFI di Batam kepada masyarakat Indonesia melalui media cetak dan elektronik. Dilaksanakan pada H-3 sebelum acara puncak atau pengumuman nominasi FFI dengan menghadirkan para nara sumber dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, KFFI, Media Broadcast, Pemprov Kepri dan Pemko Batam, serta mengundang berbagai unsur media cetak dan elektronik lokal dan nasional.

Acara edukasi perfilman ini akan digelar selama dua hari mulai Kamis–Jumat, (25–26/11) di Turi Beach Ressort Nongsa. Acara ini terbuka untuk para sineas muda Batam dan Provinsi Kepri untuk menambah pengetahuannya terkait broadcast serta teknik pembuatan film pendek serta hal-hal lain yang terkait dengan perfilman.

Berikutnya penayangan film FFI. Film hari pertama yakni 'Tujuh Hati Tujuh Cinta, Tujuh wanita'. Hari kedua berjudul, 'Suatu Pagi di Bandra Victory' dan malam ketiga berjudul, 'Alangkah Lucunya Negeri Ini'. Pemutaran film FFI 2010 ini ditujukan untuk mendekatkan berbagai produk perfilman nasional kepada masyarakat secara kolosal selama tiga malam berturut-turut.

Selain pemutaran film, di arena yang sama juga diadakan pameran dan bazaar yang berkaitan dengan perfilman selama empat hari berturut-turut. Untuk menambah daya tarik, pada siang sampai sore hari, di tempat yang sama juga dilaksanakan hiburan musik serta lomba mirip artis dan lomba akting. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menarik kalangan generasi muda mencintai film nasional.

Pemutaran film selama tiga hari berturut-turut di Acellence Park, Kompleks Regatta Batam Centre mulai pukul 19.00 WIB tersebut akan dipaduserasikan dengan atraksi seni budaya, pameran dan bursa film, bazar dan hiburan pendukung lainnya.

Selain kunjungan sosial, bakti sosial sejumlah artis juga direncanakan menanm terumbu karang di objek wisata mangrove Pulau Abang, Galang Baru, Kota Batam, Sabtu (27/11) pagi. Kegiatan ini juga akan diisi dengan kegiatan diving beberapa artis.

Di saat konsentrasi sebagian artis dibawa ke Pulau Abang untuk melakukan bhakti social artis, di saat yang bersamaan acara dahsyat yang dipandu oleh Olda, Raffi dan Atiqah di stasiun RCTI akan digelar secara langsung dari Ocarina dengan acara khusus dengan mengangkat berbagai potensi seni dan budaya serta sarana dan obyek wisata yang ada di Batam akan dipaduserasikan dengan menampilan berbagai artis di pantai Mega Wisata Ocarina, Batam.

Begitu rombongan artis serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dan rombongan mendarat di Bandara Hang Nadim, langsung diarak keliling Kota Batam dengan menggunakan jeep terbuka dan iring-iringan berbagai komunitas hobby yang eksis di Batam seperti komunitas biang lumpur atau Jeeper, komunitas motor gede (Moge), komunitas vespa Duta Wisata Batam serta iring-iringan kompang sebagai pertanda sambutan masyarakat Batam yang sangat welcome dengan kehadiran para artis Film Nasional tersebut.

Puncak acara Nominasi FFI 2010 akan dilaksanakan, Minggu (28/11) dengan suasana Sun Rise Beach Party di Plaza Megawisata Ocarina. Acara ini akan di kemas khusus oleh media partner dalam acara Dahsyatnya Nominasi FFI 2010 dan ditayangkan secara langsung oleh semua stasiun televisi nasional.

Acara yang akan dipandu tiga presenter kawakan yang sering muncul di layar kaca RCTI tersebut juga akan memberikan ruang khusus kepada para petinggi Negeri Batam dan Provinsi Kepri untuk mempromosikan daerahnya dalam acara tersebut.  Dahsyatnya Nominasi FFI 2010 tersebut juga terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. (hk/r/ye)
Ayam Kriuk Hadir di FFIdisadur dari HALUAN KEPRI 

Jumat, 12 November 2010

SEJARAH BATAM SINGKAT

Batam merupakan salah satu pulau yang berada di antara perairan Selat Malaka dan Selat Singapura. Tidak ada literatur yang dapat menjadi rujukan dan mana nama Batam itu diambil, yang jelas Pulau Batam merupakan sebuah pulau besar dan 329 pulau yang ada di wilayah Kota Batam. Satu-satunya sumber yang dengan jelas menyebutkan nama Batam dan masih dapat dijumpai sampai saat mi adalah Traktat London (1824). Penduduk asli Kota Batam diperkirakan adalah orang-orang Melayu yang dikenal dengan sebutan Orang Selat atau Orang Laut. Penduduk ini paling tidak telah menempati wilayah itu sejak zaman kerajaan Tumasik (sekarang Singapura) dipenghujung tahun 1300 atau awal abad ke-14. Malahan dan catatan lainnya, kemungkinan Pulau Batam telah didiami oleh orang laut sejak tahun 231 M yang di zaman Singapura disebut Pulau Ujung. Pada masa jayanya Kerajaan Malaka, Pulau Batam berada di bawah kekuasaan Laksamana Hang Tuah. Setelah Malaka jatuh, kekuasaan atas kawasan Pulau Batam dipegang oleh Laksamana Hang Nadim yang berkedudukan di Bentan (sekarang P. Bintan). Ketika Hang Nadim menemui ajalnya, pulau ini berada di bawah kekuasaan Sultan Johor sampai pada pertengahan abad ke.18. Dengan hadirnya kerajaan di Riau Lingga dan terbentuknya jabatan Yang Dipertuan Muda Riau, maka Pulau Batam beserta pulau-pulau lainnya berada di bawah kekuasaan Yang Dipertuan Muda Riau, sampai berakhirnya keraj aan Melayu Riau pada tahun 1911.
Di abad ke-18, persaingan antara Inggris dan Belanda amatlah tajam dalam upaya menguasai perdagangan di perairan Selat Melaka. Bandar Singapura yang maju dengan pesat, menyebabkan Belanda berusaha dengan berbagai cara menguasai perdagangan melayu dan perdagangan lainnya yang lewat di sana. Hal ini mengakibatkan banyak pedagang yang secara sembunyi-sembunyi menyusup ke Singapura. Pulau Batam yang berdekatan dengan Singapura, amat bermanfaat bagi pedagang-pedagang untuk berlindung dan gangguan patroli Belanda. Pada abad ke-18, Lord Minto dan Raffles dan kerajaan Inggris melakukan Barter dengan pemerintah Hindia Belanda sehingga Pulau Batam yang merupakan pulau kembar dengan Singapura diserahkan kepada pemerintah Belanda.
 
 
 
Menurut sejarah, pengembangan Pulau Batam dapat dilihat pada tiga periode yang berbeda yakni periode masa lampau, periode pendudukan kolonial dan periode globalisasi. Perkembangan pulau Batam awalnya berasal dari Pemerintahan Kesultanan yang sekarang telah berbaur dengan Republik Singapura dan kerajaan Malaysia yang terlebih dahulu menganut paham moderat.
Sejarah pulau Batam dapat ditelusuri ketika pertama kali Bangsa Mongolia dan Indo-Aryans pindah dan menetap di kerajaan Melayu sekitar tahun 1000 M atau sebelum kerajaan Islam Malaka dan Bintan muncul serta saat datangnya Pemerintahan Kolonial Eropa yang diprakarsai oleh bangsa Portugis, Belanda dan Inggris. Sejak tahun 1513 M, pulau Batam dan Singapura telahmenjadi bagian dari kesultanan Johor. Penduduk pulau Batam sendiri berasal dari orang Melayu atau yang lebih dikenal dengan orang Selat atau orang Laut. Mereka menempati wilayah tersebut sejak zaman kerajaan Temasek atau paling tidak dipenghujung tahun 1300 M (awal abad ke-14). Referensi lain menyebutkan, pulau Batam telah dihuni orang Laut sejak 231 M.
Ketika Singapura dinamai Temasek yang dikelilingi oleh perairan, wilayah ini telah dijadikan sebagai pusat perdagangan yang dikuasai oleh Temanggung Tempatan (pemimpin wilayah).

Sumber : Modifikasi dari peta asli karya BAPPEKO Batam (1995-1998), Syamsul Bahrum Indigenous People In a Dependent Economy
Akibat dari pesatnya perdagangan tersebut membuat kerajaan Melayu Johor, Penyengat serta Lingga/Daik menjadi kuat dan mereka memperluas daerah kekuasaan sampai ke kawasan Malaka. Bukan itu saja, pulau Sumatera Bagian timur juga menjadi bagian dari kekuasaan mereka. sampai akhirnya datang bangsa Belanda dan Inggris pada tahun 1824 M, yang kemudia mengambil alih tampuk kekuasaan sekaligus menjadi daerah jajahannya dan muncullah paham politis yang baru.
Di abad ke-19, persaingan antara Inggris dan Belanda amatlah tajam dalam upaya menguasai perdagangan di perairan Selat malaka. Bandar Singapura juga maju pesat, mengakibatkan Belanda dengan berbagai cara ingin menguasai perdagangn Melayu dan aktivitas lainnya yang melewati kawasan tersebut. Terjadilah penyusupan tersembunyi yang dilkukan oleh pedagang Singapura. hal ini sangat menguntungkan pulau Batam yang berdekatan dengan Singapura sebagai tempat bersembunyi dari gangguan patroli Belanda.
Pada 17 Maret 1824, Pemerintah Inggris Baron Fagel dari Belanda menandatangani perjanjian London (Anglo-Deutch Tractate berisi : Belanda mengaku kedudukan Inggris di Malaka dan Singapura, sementara itu Bencoolen (Bengkulu, Sumatera) menjadi kekuasaan Belanda sekaligus menguasai kepuluan Riau).
Setelah kerajaan Melayu Riau yang berpusat di Lingga berpisah dari Johor, maka yang dipertuan besar bergelar Sultan membagi wilayah administrasi pemerintahan dalam kerajaan Melayu Lingga-Riau menjadi tiga bagian. Yakni kekuasaan Sultan di Daik Lingga, Yang Dipertuan Muda di Penyengat dan Tumenggung di Bulang. Ketiga wilayah ini menjadi satu kesatuan yang utuh dalam menjalankan roda pemerintahan. namun secara umum yang menjadi titik sentral dalam menjalankan roda pemerintahan di kerajaan Melayu dipegang Yang Dipertuan Muda yang berkedudukan di Penyengat.
Batam sendiri saat itu, merupakan wilayah kekuasaan Tumenggung, Tumenggung yang pertama di Bulang bergelar Tengku Besar. Sementara yang menjadi Tumenggung terakhir adalah Tumenggung Abdul Jamal. Sebagai pusat kekuasaan dan yang menjalankan roda pemerintahan, pada tahun 1898, Yang Dipertuan Muda yang berpusat di Penyengat, mengeluarkan sepucuk surat yang ditujukan kepada Raja Ali Kelana bersama seorang saudaranya untuk mengelola pulau Batam. bekal surat itulah, Raja Ali Kelana kemudia mengembangkan usahanya di pulau Batam. Slaah satunya mendirikan pabrik batu bata.
Pada tahun 1965 Temasek melepaskna diri dari Federasi Malaysia (1963-1965) untuk menjadi negara Singapura yang bebas. Pada awal kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hingga 1957, Tanjung Pinang dinobatkan sebagai pusat pemerintahan dan bisnis di bagian Timur Sumatera. Tanjung Pinang kemudian ditetapkan sebagai ibukota propinsi Riau yang kemudian diikuti oleh Pekanbaru yang terletak di Sumatera. Semenjak itu, Tanjung Pinang resmi menjadi ibukota Kabupaten Kepuluan Riau yang melingkupi 17 kecamatan termasuk di antaranya pulau Batam.
Untuk jangka panjang, belum ada pulau lain secara relatif bisa berkembang seperti Pulau Batam yang terus mengalami pembangunan yang sangat pesat. Padahal secara turun temurun, Belakang Padang adalah kota besar dan Batam hanya suatu tempat yang hanya dijadikan sebagai destinasi kedua setelah Belakang Padang. Tahun 1957 Pulau Buluh menjadi satu kesatuan dengan pulau Batam dan menjadi bagian dari Belakang Padang sekitar tahun 1965. Sementara pada tahun 1971, dengan keputusan Presiden No. 74 / 1971, Pemerintah pusat mengumumkan secara resmi bahwa pulau Batam sebagai suatu zona industri.

Pulau Batam yang merupakan bagian dari Propinsi Riau memiliki banyak nilai tambah. Dengan modal jalur pelayaran internasional serta jarak dengan negara Singapura hanya 12.5 mil laut atau sekitar 20 Km, maka untuk memacu perkembangan di wilayah nusantara dari semua aspek kehidupan, khususnya dibidang ekonomi, maka Pemerintah Indonesia mengembangkan Pulau Batam menjadi Otorita pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (OPDIPB).

Denah Geografis Kotamadya Administratif Batam (1983-1999)
Sumber : Modifikasi dari peta asli karya BAPPEKO Batam (1995-1998), Syamsul Bahrum Indigenous People In a Dependent Economy, 2003
 
GUS PUR BATAM

OB,OTORITA BATAM-SEJARAH SINGKAT

Sejarah Singkat
Batam mulai dikembangkan sejak awal tahun 1970-an sebagai basis logistik dan operasional untuk industri minyak dan gas bumi oleh pertamina. Kemudian berdasarkan Kepres No. 41 tahun 1973, pembangunan Batam dipercayakan kepada lembaga pemerintah yang bernama Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam atau lebigh dikenal dengan Otorita Batam.
Pengembangan Pulau Batam terbagi dalam beberapa periode . Periode pertama yaitu tahun 1971-1976 dikenal dengan nama Periode Persiapan yang dipimpin oleh Dr.Ibnu Sutowo. Periode kedua adalah Periode Konsolidasi (1976-1978) dipimpin oleh Prof.Dr.JB.Sumarlin , Setelah itu adalah Peride Pembangunan Sarana Prasarana dan Penanaman Modal yang berlangsung selama 20 tahun. Yaitu tahun 1978-1998, yang diketuai Prof.Dr.BJ. Habibie Kepemimpinan berikutnya dipegang oleh J.E Habibie yaitu bulan maret s/d juli 1998. Periode ini dikenal dengan nama Pembangunan Prasarana dan Penanaman Modal Lanjutan . Kemudian sejak tahun 1998 sampai sekarang, dibawah kepemimpinan Ismeth Abdullah dinamakan Periode Pengembangan Pembangunan Prasarana dan Penanaman Modal Lanjutan dengan perhatian lebih besar pada kesejahteraan rakyat dan perbaikan iklim investasi.
Dalam rangka melaksanakan visi dan misinya mengembangkan Batam, maka dibangunlah insfrastruktur modern yang berstandar internasional serta berbagai fasilitas lainnya, sehingga saat Pariwisata yang diminati dan mampu bersaing dengan kawasan serupa Asia Pasifik.
Berbagai kemajuan pun telah banyak dicapai, seperti tersediannya berbagai lapangan usaha yang mampu menampung angkatan kerja yang berasal hampir dari seluruh daerah di tanah air. Begitu juga dengan jumlah penerimaan daerah maupaun pusat dari waktu kewaktu terus meningkat. Hal ini tidak lain karena disebabkan oleh maraknya kegiatan industri, perdagangan, alih kapan dan pariwisataan didaerah. Namun sebagai daerah yang berkembang pesat, Batam juga tidak luput dari munculnya berbagai masalah sosial.
Untuk itulah, maka dalam rangka penyempurnaan pengembangan pulau Batam yang sedang berlangsung, maka pembangunan saat ini difokuskan kepadakesejahteraan masyarakat dengan menjalankan program social development. Hal ini diharapkan mampu mengatasi berbagai macam persoalan sosial yang timbul sebagai eksternalitas negatif dari pembangunan yang telah terjadi selama 30 tahun tersebut.